METROSIANTAR, WahanaNews.co - Gelombang dampak bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini mulai dirasakan sektor industri. Kelangkaan minyak industri yang terjadi secara tiba-tiba disebut-sebut menjadi penyebab utama melambatnya pengerjaan berbagai proyek di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. jumat 06/02/2026.
Menurut narasumber yang merupakan pekerja di kawasan tersebut, pasokan minyak industri—yang menjadi “urat nadi” operasional mesin dan aktivitas konstruksi mengalami gangguan serius. Kondisi ini membuat sejumlah perusahaan terpaksa memperlambat bahkan menunda pekerjaan.
Baca Juga:
Jurus Mitigasi Melambungnya Harga Plastik
“Pasokan minyak sangat terbatas. Pengerjaan proyek yang seharusnya berjalan cepat kini tersendat. Dampaknya sangat terasa bagi kami di lapangan,” ungkap
Narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. Situasi ini tidak hanya menghambat progres pembangunan, tetapi juga memicu kekhawatiran meningkatnya biaya operasional perusahaan.
Beberapa pelaku industri bahkan harus mencari pasokan alternatif dengan harga yang jauh lebih tinggi, menambah tekanan terhadap stabilitas sektor industri di kawasan strategis tersebut.
Baca Juga:
Inisiasi Penghematan Energi, Puluhan Ribu Insan PLN Serentak Terapkan Clean Energy Day
Sebagai salah satu pusat pengembangan industri nasional, KEK Sei Mangkei memegang peranan vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara dan sekitarnya. Jika kelangkaan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dampaknya akan merembet pada penyerapan tenaga kerja dan investasi di wilayah tersebut.
Masyarakat dan para pekerja berharap pemerintah serta pemangku kepentingan segera mengambil langkah cepat dan strategis untuk menstabilkan distribusi minyak industri, sehingga roda pembangunan tidak terhenti.
Kelangkaan ini menjadi alarm keras bagi sektor industri: tanpa pasokan energi yang memadai, geliat pembangunan bisa terancam lumpuh. Tindakan cepat dan nyata sangat dinantikan agar aktivitas industri di KEK Sei Mangkei kembali berjalan normal.